Perlindungan Tepat, Penyakit Minggat

Perlindungan Tepat, Penyakit Minggat

Menurut Joko Sasongko, Ketua Shrimp Club Indonesia (SCI) Jabar-Banten, penyakit yang masih menghantui pembudidaya udang adalah white spot (WS), white feces disease (WFD), dan myo (infectious myo necrosis virus, IMNV). Hingga kini WFD dirasa menjadi momok utama sejak awal kemunculannya pada akhir 2013. WFD telah menyebar di sentra budidaya udang dari Medan, Lampung, Banten, Jabar, Jateng, Jatim, hingga NTB. Sebaran WFD di wilayah Jabar-Banten misalnya, ulas Joko, meliputi Pangandaran, Sukabumi, Cianjur, Cirebon, Indramayu, Karawang (Jabar) dan Pandeglang (Banten). “Kalau myo hampir seluruh pesisir Jabar-Banten ada kasus. Sedangkan WS sebagian kecil di Banten, seperti Pandeglang dan Serang,” sambungnya.

Aneka Sebab?

Menurut Hery Santoso, General Manager PT Alltech Biotechnology Indonesia, hingga kini penyebab WFD masih menjadi diskusi, apakah karena manajemen kualitas air, biosekuriti, bakteri, atau kualitas genetik udang. Dugaan terkuat mengarah pada bakteri Vibrio parahaemoliticus meski belum ada yang bisa memastikan secara jelas cara pencegahan dan pengobatannya. Sebab, teknologi pengendali bakteri sudah banyak ditemukan. “Yang bisa dilakukan adalah bagaimana membuat udang ini se-fit (sehat) mungkin. Dalam artian kita bisa memelihara airnya sesehat mungkin,” ulasnya. Anwar Hasan Technical Manager Biomin Asia Pasifik pun sepakat, “Belum ada konfirmasi sebabnya apa.” Beberapa literatur menunjukkan ditemukannya patogen vibrio. Ada yang menyatakan parasit, seperti gregarin dan Enterocytozoon hepatopenaei (EHP), hingga fungi aspergillus yang menghasilkan mikotoksin seperti aflatoksin, fumonisin, dan deoxynivalenol (DON). Penyakit WFD menyerang hepatopankreas atau liver sehingga tidak bisa menghasilkan enzim pencernaan dan menjaga imun tubuh. Menurut Anwar, hepatopakreas bisa rusak karena EHP yang hidup di dalamnya dan mikotoksin yang terkandung di pakan atau mengendap di liver.

Fumonisin sebanyak 20 ppb saja, bisa berdampak buruk pada sistem imun udang. Mulanya WFD menyerang udang pada umur 60- 70 hari. Kini umur 20-30 hari pun sudah ada serangan. Udang yang terkena WFD juga tidak selalu mengeluarkan kotoran putih, ada yang berwarna cokelat keemasan. Anwar dan Hery memperkirakan, WFD dan IMV masih akan mengganggu budidaya udang tahun ini. Saat kemarau, ulas Anwar, suhu dan salinitas naik. Bakteri vibrio pun jadi agresif. “Pada musim kemarau, metabolisme udang itu cepat. Vibrio dan Myo akan lebih agresif. Hati-hati juga karena saya dengar IMNV sekarang ini lebih agresif dilihat dari tingkat kematian. Kalau myo menghantam, dapat 50% itu normal,” ungkapnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *