Categories
Uncategorized

Meminimalkan Dampak Kekeringan

Fenomena El Nino 2015 yang mengakibatkan bencana kebakaran hutan dan kabut asap memberikan pelajaran besar bagi praktisi kebun sawit di Tanah Air. Kini kemarau mulai menjelang, mereka mesti bersiap bila tak ingin produksi sawitnya berkurang,

Menurut Suroso Rahutomo, Ketua Peneliti Ilmu Tanah dan Agronomi Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) Medan, tanaman sawit dikatakan mengalami cekaman kekeringan bila mengalami curah hujan kurang dari 1.250 mm/tahun, defisit air lebih dari 200 mm/ tahun, bulan kering di atas tiga bulan, dan dry spell (jumlah hari tidak hujan secara berturut-turut) lebih dari 20 hari.

“Cekaman kekeringan berdampak pada rendahnya sex ratio artinya lebih banyak bunga jantan yang terbentuk. Buah mengalami aborsi atau malformasi (busuk). Jumlah pelepah tombak lebih dari dua dan pelepah banyak yang sengkleh,” papar Suroso dalam seminar “Inovasi &Teknologi Terkini dalam Upaya Meningkatkan Produktivitas Sawit Berkelanjutan” di Jakarta Mei lalu.

Untuk meminimalkan dampak kekeringan, lulusan Faperta IPB itu menguraikan sejumlah praktik terbaik yang bagus diterapkan para pekebun sawit. Mulai dari pencegahan, penanganan selama musim kering, dan pemulihan pascamusim kering.

Preventif

Alumnus S2 Universitas Queensland, Australia, tersebut menekankan perlunya pekebun mencatat jumlah curah hujan secara riil. Caranya dengan menempatkan tabung curah hujan di tempat terbuka. Meski ramalan tak selalu tepat, paling tidak pekebun sudah bisa melihat tren kondisi curah hujan di kebunnya berdasarkan data riil.

Ketika diperkirakan akan terjadi kekeringan, “Pada kebun TBM (belum menghasilkan) minimalkan yang tidak perlu tumbuh. Misalnya, kastrasi jangan sampai terlambat. Lakukan pemupukan secara 4 T (tepat jenis, waktu, dosis, aplikasi). Mengatur jumlah pelepah segar 48-56 pada tanaman di bawah 8 tahun dan 40- 38 pelepah pada tanaman di atas 8 tahun,” saran Suroso.

Selain itu, penting mempertahankan air selama mungkin dalam tanah. Caranya bisa dengan mengaplikasikan bahan organik, baik berupa tandan kosong maupun kompos. Tanaman penutup tanah juga perlu dipertahankan karena bersifat menahan air dan memberi suplai bahan organik ke tanah.

“Yang lain kita bisa buat teras gulud dan parit silt pit. Ini terbukti mampu membentuk cadangan air lebih banyak. Ketika tidak hujan, tanah masih lembap. Meskipun tidak canggih, teras gulud bisa menunda efek kekeringan,” ulas doktor lulusan Universitas Iowa, Amerika Serikat itu. Ia meyakinkan, hasil penelitian di Lampung, pada kebun yang berpenutup tanah dan menerapka teras gulud, kejadian pelepah sengkleh lebih sedikit. “Jumlah bunga jantan lebih rendah, bunga betina lebih tinggi sehingga produksi lebih tinggi,” tandasnya.

Selama Musim Kering

Ketika musim kemarau berlangsung, pekebun sebaiknya menunda pemangkasan tanaman muda. Demikian pula pemupukan sebaiknya dijadwal ulang ketika curah hujan di bawah 60 mm per bulan. Pemeliharaan tanaman lebih baik difokuskan ke pemeliharaan jalan dan perbaikan drainase. “Lakukan pengairan sederhana. Memang perlu biaya tapi efek produksi akan lebih baik. Satu lagi, hentikan pemakaian herbisida dalam mengendalikan gulma,” imbuh Suroso.

Saat musim kering berlalu, ahli kesuburan tanah tersebut menganjurkan, pekebun memupuk tanamannya ketika curah hujan sudah mencapai di atas 150 mm per bulan atau 50 mm per 10 hari. Waspadai pula infeksi bakteri dan cendawan khususnya pada pelepah-pelepah yang sengkleh agar penyakit tidak meluas.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *