Subang Jadi Kabupaten Agribisnis

Subang boleh berbangga. Kabupaten seluas 189.395 ha itu memiliki fasilitas agribisnis yang sangat menonjol. Pertama, Balai Besar Penelitian Tanaman Padi (BB Padi) di Sukamandi. Kedua, Balai Penelitian Perikanan Air Tawar juga di Sukamandi.

Ketiga, Pusat Bibit Buah Nusantara di Ciater, yang diresmikan Menteri Ristek dan Pendidikan Tinggi Mohamad Nasir. “Alhamdulillah. Terima kasih kepada PT Perkebunan Nusantara VIII yang telah menjadilkan lahannya untuk Pusat Bibit Buah Nusantara. Mudah-mudahan Kabupaten Subang akan menjadi Kabupaten Agribisnis,” kata Hj. Imas Aryumningsih, SE, Bupati Subang, kepada AGRINA, saat ditemui di Ciater, Subang.

“Subang akan menjadi penghasil bibit buah (tropika),” lanjut dia. Selain menyerap tenaga kerja setempat, kehadiran pusat bibit buah ini juga akan menggairahkan penyebaran ilmu pengetahuan perbuahan di Subang dan sekitarnya.

Di samping itu, pusat bibit buah ini bisa menarik anak-anak muda untuk bertani. “Sebagai pusat bibit buah, banyak orang dari mana-akan datang ke Subang,” katanya saat meninjau pusat bibit buah itu.

Jaga Bumi, Cerdaskan Petani

Asosiasi nirlaba skala internasional yang terdiri dari industri benih dan pestisida, CropLife, terus mempromosikan pertanian berkelanjutan. Hal ini mencakup kepentingan para petani, konsumen, dan pihak terkait lainnya. CropLife terus ber komitmen untuk mendukung dan mengadvokasi penggunaan produkproduk pertanian yang aman.

Program Stewardship

Pemunculan produk-produk benih dan pestisida melalui serangkaian proses yang panjang, mulai dari penelitian hingga pembuangannya. Bermula dari penelitian, para ahli membutuhkan waktu setidaknya 10 tahun untuk menelurkan satu produk ke pasaran.

Penelitian terbilang lama karena ada sekitar enam pengujian yang dilakukan meliputi uji secara kimia, biologi, kimia sintetis, kimia kombinasi, skrining, dan metode genom. Ditambah pengembang an dengan uji kimia, uji lapang, toksikologi, dan kimia lingkungan. Debabrata Kanungo, konsultan independen mengatakan, “Suatu perusahaan mengembangkan pestisida berdasarkan praktik pertanian lokal, potensi bahaya yang mengancam, dan pastinya aspek kesehatan konsumen,” jelasnya ketika membawakan presentasi tentang regulasi dan perlindungan tanaman di Manila , Filipina (14/10).

Fokus stewardship di Asia ada tiga, meliputi peng gunaan yang bertanggungjawab, manajemen resistensi, dan manajemen kemasan. Terkait penggunaan yang bertanggung jawab, Crop Life melatih petani mengaplikasikan pestisida secara aman dan efisien. Sedangkan soal manajemen resistensi, pelatihan dilakukan untuk mencegah terjadinya resistensi herbisida, insektisida, dan fungisida pada tanaman.

Petani juga mendapat pengetahuan untuk mengumpulkan, mendaur ulang, dan memusnahkan wadah pestisida yang kosong. Program stewardship ini umumnya menjamah petani kecil dengan tujuan untuk mengubah kebiasaan mereka agar menjadi lebih baik. Kegiatan Crop Life berlangsung dengan komunikasi dua arah sehingga terkesan lebih mendalam dan mengena. A.D. Robert, Stewardship & Stakeholder Partnerships Directors CropLife Asia memaparkan tentang studi kasus integrasi manajemen hama pada padi di Vietnam.

“Kami melatih lebih dari 15 ribu petani, 400 pengecer dan memben tuk 67 klub petani,” terangnya. Pada akhir pelatihan, petani diharapkan memahami tentang musuh alami (47%-89%), mengerti label (lebih dari 99%), mengurangi penyemprotan (30%), dan meningkatkan pendapatan (14%-17%).

Perangi Produk Palsu

Harga pestisida asli di pasaran cukup mahal. Sementara petani ingin produksi dengan ongkos minim agar keuntungan maksimal. Kadang kala petani menemukan produk yang sudah ternama dengan harga sedikit murah dibandingkan harga produk asli.

Beberapa petani tidak menyadari hal itu dan masih memilih produk yang lebih mu rah. Padahal yang harganya lebih mu rah belum tentu orisinil. Malahan, bisa jadi pestisida lebih murah itu palsu dan justru membahayakan tanaman mereka. Contohnya di India. Trina J de Vera, Direktur Eksekutif CropLife Asia yang menangani produk pemalsuan m e n j e l a s k a n , India merupakan salah satu negara dengan per tumbuhan sektor agrokimia yang cepat.

“Tapi ancaman pemalsu an juga sema kin besar,” bebernya. Kasus pemalsuan ini, lanjut Trina, meningkat hing ga 20% per tahun dan jika tidak diselesai kan segera, bisa mencapai 40% pada 2019. Pada 2015, India mengalami krisis produksi kapas. Hama lalat putih menyerang tanaman kapas petani secara masif.

Petani pun mengalami kerugian karena gagal panen akibat penggunaan pestisida palsu yang dibagikan oknum kementerian perta ni an setempat. Akibatnya, banyak petani yang kesal, bahkan beberapa di antaranya bunuh diri.

Sedangkan di Indonesia, hasil survei Insight Asia menyatakan, sekitar 26% petani pernah membeli produk palsu dari toko per tanian tingkat desa. “Kam panye pengendalian hama dan penyakit terpadu merupakan kepedulian CropLife terhadap para petani di Indonesia,” ungkap Agung Kurniawan, Direktur Eksekutif CropLife Indonesia.

Kampanye ini, sambung Agung, ber tujuan untuk meningkatkan kesadaran para petani dan toko tani akan bahaya pestisida palsu.

Manajemen Pestisida di ASEAN

Pemerintah negara-negara Asia Tenggara merasa penting untuk meng atur penggunaan pestisida. Secara ekonomi, negara di kawasan ini memiliki potensi ekonomi pada sektor per tanian. Dalam presentasinya, Director of Science and Regulatory Affair CropLife Asia, Vasant L. Patil memaparkan hasil produksi pertanian di Asia Tenggara.

“Pada 2014, Asia Tenggara memproduksi 209,8 juta ton padi, 190,6 juta ton tebu, 76,7 juta ton singkong, 40,5 juta ton jagung, dan 1,50 juta ton kedelai,” katanya. Bekerjasama dengan lembaga pangan dunia (FAO), CropLife menyusun kerangka kerja yang harmonis demi mendapat manajemen pestisida yang efektif, konsisten, dan bertanggungjawab.

Pertemuan terlaksana pada Agus tus 2017 di Singapura. “Harmonisasi manajemen pestisida ini merupakan komponen penting demi suksesnya perdagangan pertanian di Asia Tenggara,” tambah Vasant. Selain itu, penting juga untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat dan keamanan pangan bagi masyarakat di Asia Tenggara. Kerjasama CropLife dengan satu persatu negara Asia Tenggara pun telah berjalan dengan baik. Lihat saja di Indonesia.

CropLife sudah menjalin baik dengan kementerian pertanian. Di Malaysia, CropLife berkolaborasi dengan Departemen Pertanian untuk lokakarya antipemalsuan. Pada 24 Februari 2017, CropLife meneken kese pakatan kerjasama dengan De partemen Pertanian Thailand beserta empat organisasi lainnya.

Kesepakatan itu mencakup informasi tentang pemberitahuan lokasi toko yang menjual pupuk palsu, vaksin palsu, dan benih palsu. Di Vietnam, CropLife melakukan pelatihan dan meningkatkan kapasitas bangunan dengan MARD-PPD dan Bea Cukai.