Baymix®Grobig®BS, Antisipasi Tepat Pelarangan AGP

Baymix®Grobig®BS, Antisipasi Tepat Pelarangan AGP

Industri pakan ternak dan peternak di Indonesia sudah bertahun-tahun memanfaatkan Antibiotic Growth Promoters (AGP) sebagai imbuhan pa kan (feed additive) untuk mendapatkan performa ternak yang terbaik dan ke untungan secara ekonomis. Namun penggunaan AGP menimbulkan dam pak negatif, salah satunya resistensi anti biotik pada ternak dan manusia. Penyakit menjadi lebih sulit diobati ka rena mikroba kebal terhadap antibiotik.

Karena itu, pe merintah Indonesia akan melarang pemanfaatan AGP pada pa kan mulai 2018. Dalam rangka mengenalkan peng ganti AGP yang efektif, Bayer Animal Health bersama PT SHS International mengajak praktisi industri pakan, bree der, dan peternak mengikuti Bayer Poul try Academy dengan tema “AGP Dica but, Siapa Takut” di Sentul City, Bogor, 22 Maret 2017. Dalam acara ini Bayer meluncurkan produk barunya, Baymix® Grobig® BS. Berbicara pada kesempatan tersebut, Prof. Budi Tangendjaja (pakar nutrisi ter nak dari Balai Penelitian Ternak Ciawi), Prof. Bambang Pontjo Priosoeryanto, MS (ahli patologi FKH IPB), dan Dr. Chan drakant Gho tekar (Species Manager Com mercial International-Poultry), Bayer Animal Health.

Saluran Cerna Harus Sehat

Untuk mencapai target produksi, unggas perlu mendapatkan asupan pakan yang berkualitas baik. Namun nutrisi dalam pakan tersebut hanya akan terserap maksimal bila saluran cernanya sehat. Karena itu, “Mengoptimalkan kesehatan usus menjadi kunci dalam meningkatkan performa ternak. Ternak mu da khususnya membutuhkan dukung an untuk mengembangkan dan menjaga kesehatan mikroflora dalam saluran cernanya,” ungkap Bambang.

Salah satu penyakit yang mengancam saluran cerna adalah nekrotis enteritis (NE) atau berak darah. NE yang dise bab kan bakteri Clostridium perfringens ini, menurut dosen FKH IPB tersebut, sa ngat penting dicegah. Pasalnya, kare na racun patogen tersebut dapat meng akibatkan kerusakan pada usus se hing ga memicu kematian sampai 40%. “Apa lagi kalau dibarengi penyakit koksidosis yang disebabkan protozoa Eimeria (ter utama E. maxima dan E. acervulina), ke matiannya bisa sampai 80%,” terang alum nus Universitas Yamaguchi, Je pang, ini. Secara ekonomi, imbuh Bambang, NE menyebabkan inefisiensi pakan karena usus yang rusak tidak mampu me nyerap nutrisi dengan baik. Konversi pakan pun membengkak dan target produksi tidak tercapai.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *